Ulang Tahun dan Setelahnya?   Leave a comment

Ulang tahun. Birthday. Anniversarie.

Kalau kita merayakan ulang tahun, manakah yang kita maknai?
Usia yang ditunjukkan oleh lilin ataukah usia yang sebenarnya akan kita tempuh ke depan?

Jadi, semisal kita merayakan ulang tahun ke 20. Saya yakin kita tidak hanya sangat bersyukur karena telah diberkahi waktu untuk hidup dengan segala yang telah terjadi.
Namun, apakah kita terpikir bahwa, kita harus menempuh jalan yang lebih sulit dan meraih lebih banyak untuk usia 21 mendatang?
Karena saat kita merayakan ulang tahun yang ke 20, otomatis usia 20 itu berakhir saat itu juga. Dan kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi 21.

Intinya, setiap waktu yang kita tempuh berisi kebaikan, yang dapat kita timba lebih banyak jika kita bertindak baik dengan niat yang baik dan kesungguhan.

Posted December 30, 2010 by Uki Uki Saki in Uncategorized

Sayonara My Sista – Prolog   2 comments

22.06.10

Mbak Put kecelakaan. Aku mendapatkan kabar setelah mandi. Waktu itu waktu menunjukkan pukul 12.55 WIB. Aku dan Mbak Lina langsung berangkat ke Rumah Sakit Mitra Keluarga di daerah Darmo Satelit.
Karena daerah tersebut sangat jauh dari rumah kami, kami sempat kebningungan mencari jalan menuju ke sana. Syukurlah aku masih ingat sedikit daerah itu. Akhirnya setelah bertanya pada orang-orang sana kami dapat sampai di rumah sakit dalam waktu yang relatif singkat.

Sesampainya kami di depan pintu masuk UGD kami disambut (kalau tidak salah ingat) tiga orang polisi, Mas Edo, dan Mas Iqbal. Keduanya teman Mbak Put sejak kuliah.

Polisi menanyai identitasku sebagai anggota keluarga Mbak Put, sementara Mbak Lina mengurus administrasi di dalam rumah sakit. Setelah aku selesai, aku menyusul ke dalam.

Kata pak polisi, Mbak Put dijambret. Dia diikuti pengendara sepeda motor dari belakang. Mbak Put menyadari hal itu, jadi dia menambah kecepatannya. Lalu terjadilah penjambretan itu. Sehingga Mbak Put goyah, terjatuh, dan membentur sesuatu yang keras (pak polisi bilang itu tiang rambu-rambu, tapi aku ragu).*

Kondisi Mbak ut gawat. Lengan kiri bawah mengalami atah tulang. Napasnya tidak stabil. Kehabisan banyak darah. Semoga tidak terjadi gegar otak.

Aku dan Mbak Lina sadar bahwa ini semua butuh biaya. Mbak Lina mencoba menelepon Mas Slamet, suaminya, yang sedang berada di Ambon. Tidak tersambung. Kemudian ia mencoba menelepon Mas Toni, Saudara kami yang tertua yang berada di Jakarta. Mbak Lina menjelaskan apa yang terjadi dan segera menyampaikan pokok permasalahannya. Sayangnya aku tidak ingat nomor rekeningku dan tidak membawa buku tabunganku. Jadi Mas Toni akan mengirim uang ke rekening Mbak Lina.

Saat itu aku tidak tahu harus bagaimana. Yang jelas aku fokus untuk menguatkan diriku sendiri.

Saat aku duduk di kursi ruang UGD, aku mendengar suara “bip” yang berbunyi rutin. Itu ECG (Elektrokardiograf). Kuperhatikan alat itu berbunyi dua kali tiap detiknya. Aku tidak tahu apa itu baik atau buruk.
Aku juga sempat mendengar percakapan antara juru rawat dan dokter yang sedang menangani kakakku. Ada yang habis. Semoa bukan darah. Sayangnya memang darah. Hemoglobin 5,4 (lagi-lagi aku tidak tahu standar amannya). Setelah itu seorang juru rawat datang pada Mbak Lina dan meminta tanda tangan persetujuan untuk membeli empat kantung darah WB (Whole Blood, darah yang untuh kandungannya) di PMI (Palang Meras Indonesia) Surabaya.

Badanku lemas.

CT Scan akan dimulai. Saat Mbak Put dibawa keluar UGD, aku sempat melihat ada lebam di bagian bawah tulang pipinya.Aku berasumsi bahwa di bagian tersebut terjadi kerusakan tulang. Katakanlah, retak atau … patah.

Proses CT Scan sedang berlangsung. Aku, Mbak Lina, Mas Iqbal, Mas Edo, Mas Bela, Mas Kemal dan pacarnya, menunggu di lobby khusus CT Scan. Kulihat wajah mereka semua khawatir bercampur harap. Mungkin hanya wajahku yang tampak datar.

Aku dan Mbak Lina ragu-ragu apakah kami harus memberi kabar kepada Ibu. Keadaannya sungguh tidak enak: Ibu sedang menunggu nenek yang kritis di sebuah rumah sakit di Purwodadi, Jawa Tengah. Belum lagi soal sengketa. Haah.

Kata-kata dokter yang menangani kakakku terus bergema dalam pikiranku: “Kita berpacu dengan waktu.”
Aku melirik sejenak ke arah televisi di lobby. Desperate Housewives 5. Sejenak setelahnya aku berpikir, aku bukan housewife, jadi aku ngga bakal desperate.*

Mbak Putri kembali dibawa ke UGD. Mungkin akan menjalani transfusi darah, mengingat sebelumnya dia membutuhkan darah. Saat aku bertanya kepada juru rawat soal kemungkinan operasi, perawat itu memberitahuku soal haemoglobin. “Sekarang ini Hb (Haemoglobin, red)-nya 4,1. Sedangkan untuk operasi dibutuhkan minimal 8. Makanya ini lagi diusahakan supaya Hb-nya bisa maksimal.”

Oh, begitu.
Aku pernah mendengar tentang Hb yang bisa disuntikkan. Apa disini tidak tersedia? Atau karena terlalu mahal? Entahlah.

Setelah itu Mbak Put menjalani … tes Rontgen?
Kemudian ia dibawa ke ICU.

Akhirnya Mbak Lina memutuskan untuk memberitahukan kepada ibu mengenai hal ini. Kalaupun terjadi hal yang kurang diharapkan pada Ibu, aku rasa lebih baik menyesali suatu perbuatan daripada menyesali kekerdilan jiwa yang tidak sanggup mengambil keputusan.
Waktu Mbak Lina menelepon Ibu, suaranya bergetar dan terputus-putus. Tentu Ia menangis. Menyamaikan kabar buruk di saat yang buruk itu beban yang berat. Rasa tanggung jawab bercampur dengan kesedihan.

Bagaimana rasanya? Aku belum pernah merasakannya. Rasa berat saat menyampaikan berita duka kepada orang yang sangat disayangi. Dan aku baru memahaminya ketika aku menelepon kakakku, Mas Ahmad.
Awalnya biasa-biasa saja. Aku sadar aku harus bisa mengendalikan diri dengan baik. Sampaikan dengan tenang, Sakinah. Agar orang yang mendengarmu juga (setidaknya) lebih tenang daripada semestinya.
Tapi akhirnya suaraku bergetar juga. Rasanya ingin menangis. Tapi masih ada harapan. Aku batal menangis.

17:58 WIB – Apa kabar, Mbak Put?
Belum ada kabar dari dokter. Aku mulai migrain dan mengantuk. Bapak yang ada di rumah bersikeras ingin datang kemari. Sebaiknya jangan.

18:31 WIB – Bismillah..
Mbak Lin dipanggil masuk ICU. Semoga ia keluar membawa kabar baik.

Ternyata Mbak Put masih kritis. Pendarahannya belum berhenti. Ada serpihan tulang di kepalanya yang merobek arterinya. Arteri!
Dokter sudah memberikan obat yang dapat membantu menghentikan pendarahan. Jadi, seterusnya tergantung pada perjuangan kakakku.

Aku lupa melihat jam. Aku kira aplikasi notes di hp bisa menyimpan detail pembuatan catatan (tanggal, waktu). Ternyata tidak.
Alhamdulillah, pendarahan kakakku berhenti. Aku sangat senang mendengarnya. Walaupun begitu aku harus tetap berdoa. Hb-nya masih 1,5 dan transfusi terus dilakukan. Aku masih bertanya-tanya, kenapa tidak diberi suntikan Hb saja? Kalau RS tidak punya, bisa minta PMI, kan?

22:45 WIB
Belum ada kabar dari dokter. Aku menunggu sambil memperhatikan teman-teman Mbak Put yang datang. Banyak sekali. Ruang Tunggu ICU menjadi lebih mirip sebuah koridor kampus daripada seharusnya.

Ya Allah, aku masih punya urusan dengan kakakku. Kumohon jangan Kau halangi kami.. aku mohon pada-Mu..

23.06.10 pukul 00.13 WIB
Mbak Put koma. Kudengar wajahnya memar (memang memar, sih). Hb-nya juga tetap pada 1,5. Berjuanglah, Mbak Put!

02:10
Ibu datang. Histeris. Gaduh. Hampir pingsan.
Mbak Lina berusaha menguatkan Ibu. Aku tak sanggup berkata apa-apa. Aku hanya diam, sementara tanganku berusaha melakukan apapun agar Ibu bisa lebih tenang.
Aku sendiri berusaha tetap tenang dan datar.

Aku mengamati Ibu yang histeris. Hatinya pasti hancur, jiwanya terguncang hebat, dan begitu rapuh.
Haah, aku sendiri tidak tahu seperti apa jiwaku. Aku hanya berusaha tetap tenang dan kuat. Agar aku dapat menenangkan dan menguatkan orang lain.

Posted July 5, 2010 by Uki Uki Saki in Indonesian Posts

Tagged with , ,

Seven Social Sins   Leave a comment

1. Politics without principle
2. Wealth without work
3. Pleasure without conscience
4. Knowledge without character
5. Commerce without morality
6. Science without humanity
7. Worship without sacrifice
[Gandhi, 1925.]

Posted June 21, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with

Some Kinds of Parents…   1 comment

Sometimes, some kinds of parents have obsessions. And sometimes, they can’t make it. And sometimes (again), they who failed want their children to continue their fallen obsessions.

Sometimes, some kinds of parents feel confidence and proud of who and how they are. And sometimes, they want the children also be the same as they are. And sometimes (again), the children are not the same with the parents.

But
Sometimes, some kinds of parents want the children to be independent. Decide their own ways. Grow up. Develop themselves. Be adults. Be the best they can be.
Spread their wings and fly high….

So, what kind of parent i will be?

Posted June 21, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with

How To Manage Your Enviousness   2 comments

Enviousness is really dangerous unless you can control it and manage it for the good purpose.

Enviousness can lead you to the bad things. For example, you got a bad score for a subject/class. And you feel envious to someone, say, your rival who got the better score than yours. You couldn’t think clearly. You got mad and give him/her your fist.

After that you could never get a better score. Because you’d been thought as a bad person and nobody liked you.

It would be a different ending if you manage your enviousness as a motivation. If you fight your rival by a fair competition (study hard to get a better score, whatelse), then you would have seen as the real winner.

So, how to manage our enviousness?
*think think think*

First, we gotta know Why we are so envious. If we know about the causes, it will be easier to cope with the problem.

If you’re envious because others got what you want to get, then try harder to get it. May be you have not been working so hard, or only wanting without working.

If you’re envious because your rival is being treated better than you, you gotta investigate why he is.

To be easier, you can get closer to your rival. By knowing him, you can compare yourself directly to him and learn much things. But don’t try to uncover his weaknesses because it will bring a bad image to you.

The key is just about being better. Just focus to yourself. Explore yourself. If your rival can do better than you can do, then so do with you.

That’s all I can share this time. Maybe we have the different ways to change our enviousness into a motivation.

Thank you for reading :D

Posted June 18, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with

Perova Positiva dan Novum Negativum   Leave a comment

Perova Positiva dan Novum Negativum adalah sepasang kekasih. Mereka selalu berdua. Tak terpisahkan. Hidup bersama. Dimanapun selalu bersama. Tidak ada Perova tanpa Novum, begitu juga sebaliknya. Semua untuk satu, dan satu untuk semua. Keduanya adalah satu, dan satu adalah keduanya. Perova adalah Novum, dan Novum adalah Perova. Jiwa, raga, dan cita-cita. Mimpi, luka, dan realita.

Novum dan Perova. Mereka berbeda. Dan perbedaan adalah satu-satunya kesamaan yang mereka punya.
Suatu hari, mereka duduk berdampingan di bawah langit yang biru dan di atas bumi yang hijau.

N : Curang, namamu selalu disebut lebih dulu—bahkan untuk judulnya!
P : Mungkin memang maunya penulis? Hahaha
N : Tidak, karena kau lebih disukai daripada aku.
P : Tenapa bisa begitu? Kurasa kita berdua sama-sama disukai.
N : Aku ini buruk dan merugikan. Sedangkan kau baik dan menguntungkan. Kau menyenangkan, sedangkan aku hanya akan membuat orang bunuh diri.
P : Ahahaha, tapi kau bisa membuat orang menjadi waspada. Tanpamu, polisi tidak akan berguna.
N : Kau itu berbahaya, kau bisa membuat orang lengah dan terlihat seperti orang gila. Entah apa yang mereka sukai darimu.
P : Hmm.. Mungkin karena aku bisa membantu orang mencapai keberhasilan?
N : Dan aku menghambat orang mencapai keberhasilan, begitu? Terimakasih atas pujiannya.
P : Tidak, bukan begitu maksudku. Kau pun bermanfaat, agar orang tidak ceroboh dalam mengambil keputusan. Dan orang akan menyadari siapa dirinya.
N : Kau membuatku ingin menjadi sepertimu.
P : Ahaha, kau adalah aku.

Novum mendengus kecil. Kemudian ia berbaring di pangkuan Perova. Dipandanginya mata kekasihnya itu. Dan Perova membalas pandangan Novum dengan senyum kecil.

N : Mungkin kebaikanmu yang membuat banyak orang menyukaimu. Aku jadi iri dan cemburu. Aku iri karena aku tidak sepertimu. Dan aku cemburu karena satu-satunya hal yang selalu bersamaku ternyata disukai, dicintai banyak orang.
P : Jangan berkata begitu. Kita berdua tahu, orang yang menyukaiku memang membencimu. Tapi kita juga tahu, pengikut setiamu begitu susah meninggalkanmu. Mereka mencintaimu.
N : Di film-film, kau selalu menjadi tokoh utama dan pemenangnya.
P : Tapi tanpamu, tokoh utama tidak berarti dan tidak ada pemenang karena tidak ada perselisihan antara kita. Dan banyak juga orang yang mengagumi tokoh antagonis.
N : Aku ingin menjadi dirimu.
P : Kau adalah aku, dan aku adalah kau.
N : Kau lebih bermakna, tidak ada gunanya aku ada.
P : Jika kau tidak ada, untuk apa aku ada?
N : Aku menyengsarakan manusia, kau menghidupkan mereka.
P : Kau membuat manusia belajar.
N : Iblis mencintaiku
P : Bukankah itu bagus? Hihihi
N : Kau putih, dan aku hitam
P : Dunia ini memang seperti papan catur.
N : Kau selalu mematahkan kata-kataku.
P : Tanpamu, aku tak sanggup mematahkan apapun.
N : Untuk inikah kita hidup?
P : Benar.
N : Untuk saling melawan dan mematahkan?
P : Benar.

Novum menangis di pangkuan Perova. Perova membelai Novum sembari tersenyum penuh kasih sayang.

P : Kau tidak sendirian, Novum. Kita berdua akan selalu bersama. Kita akan selalu ada, abadi. Bahkan waktu bisa mati, hahaha.
N : Dan saat waktu mati, kita akan terpisah!
P : Dan keterpisahan itulah yang membuat kita sama.
N : Saat itu, aku akan kehilanganmu.
P : Saat itu, aku akan merindukanmu.
N : Mengapa Tuhan menciptakan kita, Perova? Mengapa?

Novum terus menangis di pangkuan Perova. Airmatanya berkilauan, seperti berlian.

Sedangkan Perova hanya bisa tersenyum sambil mengelus kepala Novum. Ia tidak akan menjawab pertanyaan Novum, tidak perlu. Karena ia tahu, Novum mengetahui jawabannya. Dan Perova mengetahui apa yang Novum ketahui.

Karena mereka adalah satu.

Posted June 6, 2010 by Uki Uki Saki in Indonesian Posts

Tagged with ,

Can’t Add Any Event Schedule on My Blog Calendar   Leave a comment

I’m sorry that on my blog’s calendar (Uki Uki Time Machine) there’s no event schedule or whatelse.

It’s only a calendar which shows my posts. Current dates are linked to the posts based on the publication date.

So… no post, no link.

I really want to share some event schedules on my blog. But it can’t go that way.

I think i will just use the post to share the upcoming events or event reports.

Posted May 27, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with

Dilemma   Leave a comment

WARNING: This post is written randomly with a random mind and randomized sentences. Forgive me.

I didn’t know what to write, what to say, what to share right now.

I’m an ordinary teenager who seeks for a good university with the suitable faculty for me.
As an ordinary human, I want to live on my own way. I have willings, desires, and dreams.
But it seems that my parents aren’t on the same way with me. We see different future, we have different plans, different visions, and different ways of thinking.

I admit I wanna do what I want, but it doesn’t mean that I’m a wild child to my parents. I still love my parents, whatever they do and say. But it is so hard to choose between my dreams and their hopes.
I live for them, I live because of them. I would give everything for them.
But, does it mean that I gotta sacrifice my dreams for them?

I wanna say “Mom, Dad, it is my life. Let me decide by myself. Let me grow up, develop myself, learn about many things. Please, set me free.”
But I can’t. They’re still needing me by their sides.
And I don’t wanna hurt them.

FYI my parents even dunno about my dreams or what I want.
Not because they never wanna know (sometimes they don’t wanna know, though), but because I never spoke up or tell em what I wanna be.

I understand that my parents just don’t wanna let me fall down. They don’t wanna see me hurt. They just wanna see me happy. I do really understand. But instead of that, my parents also don’t wanna be shamed of me. My failure. because children’s success represents the parents’.

But I never thought so.

If I’m failed, it must be my fault. Because I’m sure that my parents had educated me so well.
I’m the one who work it out, for me. And if I’m failed, I am the one who should be depressed, right? Yeaah, though I never been. Not Yet. I won’t. Nothing can bring me down :P

Soooo, back to the topic!
I still dunno what to say~!!! Aaaaarrrrghhh…..

This time I just wanna runaway from my house. Gone somewhere nowhere.
Crossing the sea and travelling around the world all alone~!

But that won’t make my parents happy.

Posted May 21, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with ,

Ikhlas~? kii~?   Leave a comment

Seorang bapak-bapak yang sudah tua sedang menggosok sepatu seorang pemuda di tepi jalan. Wajahnya menunjukkan niat dan kesungguhan. Sambil bekerja, Pak Tua itu bercerita kepada Si Pemuda.
“Kemarin saya dapat pelanggan satu orang. Orang kaya, pakai dasi bagus, bajunya rapi, kerja di kantor dekat sini. Sepatunya juga, modelnya bagus. Saya kira saya bisa minta imbalan lebih, eh, ternyata orangnya pelit minta ampun.”
Si Pemuda agak heran. “Bapak tahu dari mana kalau orang itu pelit?”
“Orangnya ngga mau bayar jasa saya. Saya sudah baik-baik gosok sepatunya sampai mengkilap, tapi orangnya malah marah-marah. Ngga tahu kenapa. Dia langsung pergi.”
Pak Tua itu melanjutkan, “Ya, saya sih sudah ikhlas. Saya sudah bekerja sebaik mungkin. Sudah gosok sepatunya sampai bagus seperti baru. Walaupun gara-gara itu saya tidak bisa makan seharian dan kelaparan, saya ikhlas. Tapi saya heran, ada juga orang pelit kaya’ begitu.”***

Ikhlas. Merelakan apapun yang Tuhan ambil dari kita. Menerima apapun yang Tuhan beri kepada kita. Karena kita yakin Tuhan punya maksud baik dibaliknya. Iya, ngga’ sih?
Aku pernah membayangkan.. jika aku tidak lulus, ikhlaskah aku? Jika aku kehilangan benda-benda berharga, ikhlaskah aku? Jika aku kehilangan orang-orang berharga, ikhlaskah aku? Jika satu detik kemudian Tuhan memanggilku, ikhlaskah aku? Tapi syukur alhamdulillah, aku masih diberkahi hidup yang indah.

Dari membayangkan hal-hal seperti itu, aku mengambil kesimpulan. Ikhlas itu baik karena menghilangkan penyesalan (dan kesedihan yang berlarut-larut). Dan penyesalan itu tidak baik karena tidak berguna. Sebenarnya ada gunanya, tapi beda topik.

Kalau aku tidak lulus, apa aku akan terus menyesalinya? Kalau PC-ku atau hp-ku hilang, apa aku akan terus menyesalinya? Kalau seseorang yang berharga buatku hilang (?), apa aku akan terus menyesalinya? Kalau aku mati, apa aku akan menyesali kehidupan yang aku sia-siakan? Karena itulah ikhlas itu baik.

Tapi, apakah ikhlas itu bisa dibuktikan (dan yang paling penting, diamalkan) hanya dengan mengucapkannya?
Aku masih sering mendengar orang berkata: “Yang penting saya ikhlas saja.” Dengan nada yang kurang mencerminkan keikhlasan (biasanya disertai kata “tapi” setelahnya). Ada juga yang mengaku ikhlas tapi tetap menjelekkan orang seperti cerita pendek yang aku tulis (di atas, tuh).

Yang seperti itu membuatku bingung. Sebenarnya dia ikhlas atau tidak? Bisa saja orang itu ingin dipandang berhati lapang dengan berkata demikian (kasarnya, biar keliatan suci). Tapi bisa saja orang itu memang ikhlas, hanya saja kurang pandai mennyampaikannya.

Ada merpati diatas perahu.
Isinya hati, siapa yang tahu?

Aku berpikir bahwa ikhlas itu tidak bisa dibuktikan (dan diamalkan) hanya dengan diucapkan di depan orang lain. Karena yang mengetahui dan berhak menilai keikhlasan kita hanyalah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil. Toh akan lebih enak rasanya kalau hanya ybs dan Tuhan yang tahu.

Namun bukan berarti aku melarang orang mengungkapkan keikhlasan mereka.
Menunjukkan keikhlasan pada orang lain itu ada baiknya. Misalnya dalam memberi. Keikhlasan dalam memberi menunjukkan kesungguhan dalam beramal / membantu. Tapi ada rambu-rambunya.

Jangan berkata: “Nih, gue ikhlas ngasih lo duit.” Apalagi di depan banyak orang, dengan agak keras, dagu diangkat, mata tidak fokus pada yang diberi, tanpa senyum (atau senyum ala tokoh antagonis), dan menagih di akhir-akhir. Bersiaplah dinilai sebagai orang pamer, sombong, dan pelit (kayak yang nulis).

Lalu, bagaimana seharusnya?
Banyak cara untuk menunjukkan keikhlasan kita pada orang. Yang barusan itu hanya pantangannya, rambu-rambunya. Sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan.
Karakter manusia kan bermacam-macam. Situasi yang dihadapi juga berbeda-beda. Dan kita semua masih dalam proses berkembang dan belajar. Jadi terserah orang mau bagaimana.

Yang jelas, Tuhan mengetahui isi hati dan pikiran kita.

Posted May 5, 2010 by Uki Uki Saki in Uncategorized

Tagged with ,

Uki Uki Saki   Leave a comment

Aku ini pemalas =_=
Aku malas bangun pagi, malas belajar, malas mandi (kadang-kadang), malas melakukan hal-hal yang sifatnya rutin dan teratur. Hanya makanku yang teratur.

Seperti semua orang, aku punya mimpi :3
Impian. Dan itu rahasia. Aku tidak mau mengumbar impianku sebelum aku berhasil mewujudkannya. Impian itu bukan sesuatu yang murahan. tidak bisa diobral, atau dilelang.

Aku sadar, aku dapat mewujudkan impianku dengan berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu :3
Dengan berbakti pada Tuhan, orang tua, Tanah Air, dan segala kebaikan hati. Intinya, aku harus membuat diriku lebih baik. tidak peduli bertambah satu nanogram atau megaton. Alhamdulillah kalau memang megaton XD.

Kontras, mengingat aku si pemalas yang rajin bermimpi. Tapi aku masih berusaha. Dan ini bukan alasan untuk berkelit dari tuntutan.

Aku sedang berusaha menghormati diriku sendiri, membaikkan diriku sendiri, menguji diriku sendiri, dan menempa diri di jalan Tuhan.

Aku minta maaf jika aku pernah menyakiti hati siapapun juga. Aku membutuhkan pengalaman dan pendalaman untuk dapat memahami orang, mohon maklum.

Aku sedang berusaha untuk maju. Biar secepat siput atau kura-kura, yang penting maju.

Posted April 22, 2010 by Uki Uki Saki in Uncategorized

Tagged with , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.