Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Ulang Tahun dan Setelahnya?   Leave a comment

Ulang tahun. Birthday. Anniversarie.

Kalau kita merayakan ulang tahun, manakah yang kita maknai?
Usia yang ditunjukkan oleh lilin ataukah usia yang sebenarnya akan kita tempuh ke depan?

Jadi, semisal kita merayakan ulang tahun ke 20. Saya yakin kita tidak hanya sangat bersyukur karena telah diberkahi waktu untuk hidup dengan segala yang telah terjadi.
Namun, apakah kita terpikir bahwa, kita harus menempuh jalan yang lebih sulit dan meraih lebih banyak untuk usia 21 mendatang?
Karena saat kita merayakan ulang tahun yang ke 20, otomatis usia 20 itu berakhir saat itu juga. Dan kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi 21.

Intinya, setiap waktu yang kita tempuh berisi kebaikan, yang dapat kita timba lebih banyak jika kita bertindak baik dengan niat yang baik dan kesungguhan.

Advertisements

Posted December 30, 2010 by Uki Uki Saki in Uncategorized

Ikhlas~? kii~?   Leave a comment

Seorang bapak-bapak yang sudah tua sedang menggosok sepatu seorang pemuda di tepi jalan. Wajahnya menunjukkan niat dan kesungguhan. Sambil bekerja, Pak Tua itu bercerita kepada Si Pemuda.
“Kemarin saya dapat pelanggan satu orang. Orang kaya, pakai dasi bagus, bajunya rapi, kerja di kantor dekat sini. Sepatunya juga, modelnya bagus. Saya kira saya bisa minta imbalan lebih, eh, ternyata orangnya pelit minta ampun.”
Si Pemuda agak heran. “Bapak tahu dari mana kalau orang itu pelit?”
“Orangnya ngga mau bayar jasa saya. Saya sudah baik-baik gosok sepatunya sampai mengkilap, tapi orangnya malah marah-marah. Ngga tahu kenapa. Dia langsung pergi.”
Pak Tua itu melanjutkan, “Ya, saya sih sudah ikhlas. Saya sudah bekerja sebaik mungkin. Sudah gosok sepatunya sampai bagus seperti baru. Walaupun gara-gara itu saya tidak bisa makan seharian dan kelaparan, saya ikhlas. Tapi saya heran, ada juga orang pelit kaya’ begitu.”***

Ikhlas. Merelakan apapun yang Tuhan ambil dari kita. Menerima apapun yang Tuhan beri kepada kita. Karena kita yakin Tuhan punya maksud baik dibaliknya. Iya, ngga’ sih?
Aku pernah membayangkan.. jika aku tidak lulus, ikhlaskah aku? Jika aku kehilangan benda-benda berharga, ikhlaskah aku? Jika aku kehilangan orang-orang berharga, ikhlaskah aku? Jika satu detik kemudian Tuhan memanggilku, ikhlaskah aku? Tapi syukur alhamdulillah, aku masih diberkahi hidup yang indah.

Dari membayangkan hal-hal seperti itu, aku mengambil kesimpulan. Ikhlas itu baik karena menghilangkan penyesalan (dan kesedihan yang berlarut-larut). Dan penyesalan itu tidak baik karena tidak berguna. Sebenarnya ada gunanya, tapi beda topik.

Kalau aku tidak lulus, apa aku akan terus menyesalinya? Kalau PC-ku atau hp-ku hilang, apa aku akan terus menyesalinya? Kalau seseorang yang berharga buatku hilang (?), apa aku akan terus menyesalinya? Kalau aku mati, apa aku akan menyesali kehidupan yang aku sia-siakan? Karena itulah ikhlas itu baik.

Tapi, apakah ikhlas itu bisa dibuktikan (dan yang paling penting, diamalkan) hanya dengan mengucapkannya?
Aku masih sering mendengar orang berkata: “Yang penting saya ikhlas saja.” Dengan nada yang kurang mencerminkan keikhlasan (biasanya disertai kata “tapi” setelahnya). Ada juga yang mengaku ikhlas tapi tetap menjelekkan orang seperti cerita pendek yang aku tulis (di atas, tuh).

Yang seperti itu membuatku bingung. Sebenarnya dia ikhlas atau tidak? Bisa saja orang itu ingin dipandang berhati lapang dengan berkata demikian (kasarnya, biar keliatan suci). Tapi bisa saja orang itu memang ikhlas, hanya saja kurang pandai mennyampaikannya.

Ada merpati diatas perahu.
Isinya hati, siapa yang tahu?

Aku berpikir bahwa ikhlas itu tidak bisa dibuktikan (dan diamalkan) hanya dengan diucapkan di depan orang lain. Karena yang mengetahui dan berhak menilai keikhlasan kita hanyalah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil. Toh akan lebih enak rasanya kalau hanya ybs dan Tuhan yang tahu.

Namun bukan berarti aku melarang orang mengungkapkan keikhlasan mereka.
Menunjukkan keikhlasan pada orang lain itu ada baiknya. Misalnya dalam memberi. Keikhlasan dalam memberi menunjukkan kesungguhan dalam beramal / membantu. Tapi ada rambu-rambunya.

Jangan berkata: “Nih, gue ikhlas ngasih lo duit.” Apalagi di depan banyak orang, dengan agak keras, dagu diangkat, mata tidak fokus pada yang diberi, tanpa senyum (atau senyum ala tokoh antagonis), dan menagih di akhir-akhir. Bersiaplah dinilai sebagai orang pamer, sombong, dan pelit (kayak yang nulis).

Lalu, bagaimana seharusnya?
Banyak cara untuk menunjukkan keikhlasan kita pada orang. Yang barusan itu hanya pantangannya, rambu-rambunya. Sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan.
Karakter manusia kan bermacam-macam. Situasi yang dihadapi juga berbeda-beda. Dan kita semua masih dalam proses berkembang dan belajar. Jadi terserah orang mau bagaimana.

Yang jelas, Tuhan mengetahui isi hati dan pikiran kita.

Posted May 5, 2010 by Uki Uki Saki in Uncategorized

Tagged with ,

Uki Uki Saki   Leave a comment

Aku ini pemalas =_=
Aku malas bangun pagi, malas belajar, malas mandi (kadang-kadang), malas melakukan hal-hal yang sifatnya rutin dan teratur. Hanya makanku yang teratur.

Seperti semua orang, aku punya mimpi :3
Impian. Dan itu rahasia. Aku tidak mau mengumbar impianku sebelum aku berhasil mewujudkannya. Impian itu bukan sesuatu yang murahan. tidak bisa diobral, atau dilelang.

Aku sadar, aku dapat mewujudkan impianku dengan berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu :3
Dengan berbakti pada Tuhan, orang tua, Tanah Air, dan segala kebaikan hati. Intinya, aku harus membuat diriku lebih baik. tidak peduli bertambah satu nanogram atau megaton. Alhamdulillah kalau memang megaton XD.

Kontras, mengingat aku si pemalas yang rajin bermimpi. Tapi aku masih berusaha. Dan ini bukan alasan untuk berkelit dari tuntutan.

Aku sedang berusaha menghormati diriku sendiri, membaikkan diriku sendiri, menguji diriku sendiri, dan menempa diri di jalan Tuhan.

Aku minta maaf jika aku pernah menyakiti hati siapapun juga. Aku membutuhkan pengalaman dan pendalaman untuk dapat memahami orang, mohon maklum.

Aku sedang berusaha untuk maju. Biar secepat siput atau kura-kura, yang penting maju.

Posted April 22, 2010 by Uki Uki Saki in Uncategorized

Tagged with , ,