Archive for the ‘family’ Tag

Sayonara My Sista – Prolog   2 comments

22.06.10

Mbak Put kecelakaan. Aku mendapatkan kabar setelah mandi. Waktu itu waktu menunjukkan pukul 12.55 WIB. Aku dan Mbak Lina langsung berangkat ke Rumah Sakit Mitra Keluarga di daerah Darmo Satelit.
Karena daerah tersebut sangat jauh dari rumah kami, kami sempat kebningungan mencari jalan menuju ke sana. Syukurlah aku masih ingat sedikit daerah itu. Akhirnya setelah bertanya pada orang-orang sana kami dapat sampai di rumah sakit dalam waktu yang relatif singkat.

Sesampainya kami di depan pintu masuk UGD kami disambut (kalau tidak salah ingat) tiga orang polisi, Mas Edo, dan Mas Iqbal. Keduanya teman Mbak Put sejak kuliah.

Polisi menanyai identitasku sebagai anggota keluarga Mbak Put, sementara Mbak Lina mengurus administrasi di dalam rumah sakit. Setelah aku selesai, aku menyusul ke dalam.

Kata pak polisi, Mbak Put dijambret. Dia diikuti pengendara sepeda motor dari belakang. Mbak Put menyadari hal itu, jadi dia menambah kecepatannya. Lalu terjadilah penjambretan itu. Sehingga Mbak Put goyah, terjatuh, dan membentur sesuatu yang keras (pak polisi bilang itu tiang rambu-rambu, tapi aku ragu).*

Kondisi Mbak ut gawat. Lengan kiri bawah mengalami atah tulang. Napasnya tidak stabil. Kehabisan banyak darah. Semoga tidak terjadi gegar otak.

Aku dan Mbak Lina sadar bahwa ini semua butuh biaya. Mbak Lina mencoba menelepon Mas Slamet, suaminya, yang sedang berada di Ambon. Tidak tersambung. Kemudian ia mencoba menelepon Mas Toni, Saudara kami yang tertua yang berada di Jakarta. Mbak Lina menjelaskan apa yang terjadi dan segera menyampaikan pokok permasalahannya. Sayangnya aku tidak ingat nomor rekeningku dan tidak membawa buku tabunganku. Jadi Mas Toni akan mengirim uang ke rekening Mbak Lina.

Saat itu aku tidak tahu harus bagaimana. Yang jelas aku fokus untuk menguatkan diriku sendiri.

Saat aku duduk di kursi ruang UGD, aku mendengar suara “bip” yang berbunyi rutin. Itu ECG (Elektrokardiograf). Kuperhatikan alat itu berbunyi dua kali tiap detiknya. Aku tidak tahu apa itu baik atau buruk.
Aku juga sempat mendengar percakapan antara juru rawat dan dokter yang sedang menangani kakakku. Ada yang habis. Semoa bukan darah. Sayangnya memang darah. Hemoglobin 5,4 (lagi-lagi aku tidak tahu standar amannya). Setelah itu seorang juru rawat datang pada Mbak Lina dan meminta tanda tangan persetujuan untuk membeli empat kantung darah WB (Whole Blood, darah yang untuh kandungannya) di PMI (Palang Meras Indonesia) Surabaya.

Badanku lemas.

CT Scan akan dimulai. Saat Mbak Put dibawa keluar UGD, aku sempat melihat ada lebam di bagian bawah tulang pipinya.Aku berasumsi bahwa di bagian tersebut terjadi kerusakan tulang. Katakanlah, retak atau … patah.

Proses CT Scan sedang berlangsung. Aku, Mbak Lina, Mas Iqbal, Mas Edo, Mas Bela, Mas Kemal dan pacarnya, menunggu di lobby khusus CT Scan. Kulihat wajah mereka semua khawatir bercampur harap. Mungkin hanya wajahku yang tampak datar.

Aku dan Mbak Lina ragu-ragu apakah kami harus memberi kabar kepada Ibu. Keadaannya sungguh tidak enak: Ibu sedang menunggu nenek yang kritis di sebuah rumah sakit di Purwodadi, Jawa Tengah. Belum lagi soal sengketa. Haah.

Kata-kata dokter yang menangani kakakku terus bergema dalam pikiranku: “Kita berpacu dengan waktu.”
Aku melirik sejenak ke arah televisi di lobby. Desperate Housewives 5. Sejenak setelahnya aku berpikir, aku bukan housewife, jadi aku ngga bakal desperate.*

Mbak Putri kembali dibawa ke UGD. Mungkin akan menjalani transfusi darah, mengingat sebelumnya dia membutuhkan darah. Saat aku bertanya kepada juru rawat soal kemungkinan operasi, perawat itu memberitahuku soal haemoglobin. “Sekarang ini Hb (Haemoglobin, red)-nya 4,1. Sedangkan untuk operasi dibutuhkan minimal 8. Makanya ini lagi diusahakan supaya Hb-nya bisa maksimal.”

Oh, begitu.
Aku pernah mendengar tentang Hb yang bisa disuntikkan. Apa disini tidak tersedia? Atau karena terlalu mahal? Entahlah.

Setelah itu Mbak Put menjalani … tes Rontgen?
Kemudian ia dibawa ke ICU.

Akhirnya Mbak Lina memutuskan untuk memberitahukan kepada ibu mengenai hal ini. Kalaupun terjadi hal yang kurang diharapkan pada Ibu, aku rasa lebih baik menyesali suatu perbuatan daripada menyesali kekerdilan jiwa yang tidak sanggup mengambil keputusan.
Waktu Mbak Lina menelepon Ibu, suaranya bergetar dan terputus-putus. Tentu Ia menangis. Menyamaikan kabar buruk di saat yang buruk itu beban yang berat. Rasa tanggung jawab bercampur dengan kesedihan.

Bagaimana rasanya? Aku belum pernah merasakannya. Rasa berat saat menyampaikan berita duka kepada orang yang sangat disayangi. Dan aku baru memahaminya ketika aku menelepon kakakku, Mas Ahmad.
Awalnya biasa-biasa saja. Aku sadar aku harus bisa mengendalikan diri dengan baik. Sampaikan dengan tenang, Sakinah. Agar orang yang mendengarmu juga (setidaknya) lebih tenang daripada semestinya.
Tapi akhirnya suaraku bergetar juga. Rasanya ingin menangis. Tapi masih ada harapan. Aku batal menangis.

17:58 WIB – Apa kabar, Mbak Put?
Belum ada kabar dari dokter. Aku mulai migrain dan mengantuk. Bapak yang ada di rumah bersikeras ingin datang kemari. Sebaiknya jangan.

18:31 WIB – Bismillah..
Mbak Lin dipanggil masuk ICU. Semoga ia keluar membawa kabar baik.

Ternyata Mbak Put masih kritis. Pendarahannya belum berhenti. Ada serpihan tulang di kepalanya yang merobek arterinya. Arteri!
Dokter sudah memberikan obat yang dapat membantu menghentikan pendarahan. Jadi, seterusnya tergantung pada perjuangan kakakku.

Aku lupa melihat jam. Aku kira aplikasi notes di hp bisa menyimpan detail pembuatan catatan (tanggal, waktu). Ternyata tidak.
Alhamdulillah, pendarahan kakakku berhenti. Aku sangat senang mendengarnya. Walaupun begitu aku harus tetap berdoa. Hb-nya masih 1,5 dan transfusi terus dilakukan. Aku masih bertanya-tanya, kenapa tidak diberi suntikan Hb saja? Kalau RS tidak punya, bisa minta PMI, kan?

22:45 WIB
Belum ada kabar dari dokter. Aku menunggu sambil memperhatikan teman-teman Mbak Put yang datang. Banyak sekali. Ruang Tunggu ICU menjadi lebih mirip sebuah koridor kampus daripada seharusnya.

Ya Allah, aku masih punya urusan dengan kakakku. Kumohon jangan Kau halangi kami.. aku mohon pada-Mu..

23.06.10 pukul 00.13 WIB
Mbak Put koma. Kudengar wajahnya memar (memang memar, sih). Hb-nya juga tetap pada 1,5. Berjuanglah, Mbak Put!

02:10
Ibu datang. Histeris. Gaduh. Hampir pingsan.
Mbak Lina berusaha menguatkan Ibu. Aku tak sanggup berkata apa-apa. Aku hanya diam, sementara tanganku berusaha melakukan apapun agar Ibu bisa lebih tenang.
Aku sendiri berusaha tetap tenang dan datar.

Aku mengamati Ibu yang histeris. Hatinya pasti hancur, jiwanya terguncang hebat, dan begitu rapuh.
Haah, aku sendiri tidak tahu seperti apa jiwaku. Aku hanya berusaha tetap tenang dan kuat. Agar aku dapat menenangkan dan menguatkan orang lain.

Advertisements

Posted July 5, 2010 by Uki Uki Saki in Indonesian Posts

Tagged with , ,

Dilemma   Leave a comment

WARNING: This post is written randomly with a random mind and randomized sentences. Forgive me.

I didn’t know what to write, what to say, what to share right now.

I’m an ordinary teenager who seeks for a good university with the suitable faculty for me.
As an ordinary human, I want to live on my own way. I have willings, desires, and dreams.
But it seems that my parents aren’t on the same way with me. We see different future, we have different plans, different visions, and different ways of thinking.

I admit I wanna do what I want, but it doesn’t mean that I’m a wild child to my parents. I still love my parents, whatever they do and say. But it is so hard to choose between my dreams and their hopes.
I live for them, I live because of them. I would give everything for them.
But, does it mean that I gotta sacrifice my dreams for them?

I wanna say “Mom, Dad, it is my life. Let me decide by myself. Let me grow up, develop myself, learn about many things. Please, set me free.”
But I can’t. They’re still needing me by their sides.
And I don’t wanna hurt them.

FYI my parents even dunno about my dreams or what I want.
Not because they never wanna know (sometimes they don’t wanna know, though), but because I never spoke up or tell em what I wanna be.

I understand that my parents just don’t wanna let me fall down. They don’t wanna see me hurt. They just wanna see me happy. I do really understand. But instead of that, my parents also don’t wanna be shamed of me. My failure. because children’s success represents the parents’.

But I never thought so.

If I’m failed, it must be my fault. Because I’m sure that my parents had educated me so well.
I’m the one who work it out, for me. And if I’m failed, I am the one who should be depressed, right? Yeaah, though I never been. Not Yet. I won’t. Nothing can bring me down 😛

Soooo, back to the topic!
I still dunno what to say~!!! Aaaaarrrrghhh…..

This time I just wanna runaway from my house. Gone somewhere nowhere.
Crossing the sea and travelling around the world all alone~!

But that won’t make my parents happy.

Posted May 21, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with ,