Archive for the ‘random ranting’ Tag

Some Kinds of Parents…   1 comment

Sometimes, some kinds of parents have obsessions. And sometimes, they can’t make it. And sometimes (again), they who failed want their children to continue their fallen obsessions.

Sometimes, some kinds of parents feel confidence and proud of who and how they are. And sometimes, they want the children also be the same as they are. And sometimes (again), the children are not the same with the parents.

But
Sometimes, some kinds of parents want the children to be independent. Decide their own ways. Grow up. Develop themselves. Be adults. Be the best they can be.
Spread their wings and fly high….

So, what kind of parent i will be?

Advertisements

Posted June 21, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with

Perova Positiva dan Novum Negativum   Leave a comment

Perova Positiva dan Novum Negativum adalah sepasang kekasih. Mereka selalu berdua. Tak terpisahkan. Hidup bersama. Dimanapun selalu bersama. Tidak ada Perova tanpa Novum, begitu juga sebaliknya. Semua untuk satu, dan satu untuk semua. Keduanya adalah satu, dan satu adalah keduanya. Perova adalah Novum, dan Novum adalah Perova. Jiwa, raga, dan cita-cita. Mimpi, luka, dan realita.

Novum dan Perova. Mereka berbeda. Dan perbedaan adalah satu-satunya kesamaan yang mereka punya.
Suatu hari, mereka duduk berdampingan di bawah langit yang biru dan di atas bumi yang hijau.

N : Curang, namamu selalu disebut lebih dulu—bahkan untuk judulnya!
P : Mungkin memang maunya penulis? Hahaha
N : Tidak, karena kau lebih disukai daripada aku.
P : Tenapa bisa begitu? Kurasa kita berdua sama-sama disukai.
N : Aku ini buruk dan merugikan. Sedangkan kau baik dan menguntungkan. Kau menyenangkan, sedangkan aku hanya akan membuat orang bunuh diri.
P : Ahahaha, tapi kau bisa membuat orang menjadi waspada. Tanpamu, polisi tidak akan berguna.
N : Kau itu berbahaya, kau bisa membuat orang lengah dan terlihat seperti orang gila. Entah apa yang mereka sukai darimu.
P : Hmm.. Mungkin karena aku bisa membantu orang mencapai keberhasilan?
N : Dan aku menghambat orang mencapai keberhasilan, begitu? Terimakasih atas pujiannya.
P : Tidak, bukan begitu maksudku. Kau pun bermanfaat, agar orang tidak ceroboh dalam mengambil keputusan. Dan orang akan menyadari siapa dirinya.
N : Kau membuatku ingin menjadi sepertimu.
P : Ahaha, kau adalah aku.

Novum mendengus kecil. Kemudian ia berbaring di pangkuan Perova. Dipandanginya mata kekasihnya itu. Dan Perova membalas pandangan Novum dengan senyum kecil.

N : Mungkin kebaikanmu yang membuat banyak orang menyukaimu. Aku jadi iri dan cemburu. Aku iri karena aku tidak sepertimu. Dan aku cemburu karena satu-satunya hal yang selalu bersamaku ternyata disukai, dicintai banyak orang.
P : Jangan berkata begitu. Kita berdua tahu, orang yang menyukaiku memang membencimu. Tapi kita juga tahu, pengikut setiamu begitu susah meninggalkanmu. Mereka mencintaimu.
N : Di film-film, kau selalu menjadi tokoh utama dan pemenangnya.
P : Tapi tanpamu, tokoh utama tidak berarti dan tidak ada pemenang karena tidak ada perselisihan antara kita. Dan banyak juga orang yang mengagumi tokoh antagonis.
N : Aku ingin menjadi dirimu.
P : Kau adalah aku, dan aku adalah kau.
N : Kau lebih bermakna, tidak ada gunanya aku ada.
P : Jika kau tidak ada, untuk apa aku ada?
N : Aku menyengsarakan manusia, kau menghidupkan mereka.
P : Kau membuat manusia belajar.
N : Iblis mencintaiku
P : Bukankah itu bagus? Hihihi
N : Kau putih, dan aku hitam
P : Dunia ini memang seperti papan catur.
N : Kau selalu mematahkan kata-kataku.
P : Tanpamu, aku tak sanggup mematahkan apapun.
N : Untuk inikah kita hidup?
P : Benar.
N : Untuk saling melawan dan mematahkan?
P : Benar.

Novum menangis di pangkuan Perova. Perova membelai Novum sembari tersenyum penuh kasih sayang.

P : Kau tidak sendirian, Novum. Kita berdua akan selalu bersama. Kita akan selalu ada, abadi. Bahkan waktu bisa mati, hahaha.
N : Dan saat waktu mati, kita akan terpisah!
P : Dan keterpisahan itulah yang membuat kita sama.
N : Saat itu, aku akan kehilanganmu.
P : Saat itu, aku akan merindukanmu.
N : Mengapa Tuhan menciptakan kita, Perova? Mengapa?

Novum terus menangis di pangkuan Perova. Airmatanya berkilauan, seperti berlian.

Sedangkan Perova hanya bisa tersenyum sambil mengelus kepala Novum. Ia tidak akan menjawab pertanyaan Novum, tidak perlu. Karena ia tahu, Novum mengetahui jawabannya. Dan Perova mengetahui apa yang Novum ketahui.

Karena mereka adalah satu.

Posted June 6, 2010 by Uki Uki Saki in Indonesian Posts

Tagged with ,

Can’t Add Any Event Schedule on My Blog Calendar   Leave a comment

I’m sorry that on my blog’s calendar (Uki Uki Time Machine) there’s no event schedule or whatelse.

It’s only a calendar which shows my posts. Current dates are linked to the posts based on the publication date.

So… no post, no link.

I really want to share some event schedules on my blog. But it can’t go that way.

I think i will just use the post to share the upcoming events or event reports.

Posted May 27, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with

Dilemma   Leave a comment

WARNING: This post is written randomly with a random mind and randomized sentences. Forgive me.

I didn’t know what to write, what to say, what to share right now.

I’m an ordinary teenager who seeks for a good university with the suitable faculty for me.
As an ordinary human, I want to live on my own way. I have willings, desires, and dreams.
But it seems that my parents aren’t on the same way with me. We see different future, we have different plans, different visions, and different ways of thinking.

I admit I wanna do what I want, but it doesn’t mean that I’m a wild child to my parents. I still love my parents, whatever they do and say. But it is so hard to choose between my dreams and their hopes.
I live for them, I live because of them. I would give everything for them.
But, does it mean that I gotta sacrifice my dreams for them?

I wanna say “Mom, Dad, it is my life. Let me decide by myself. Let me grow up, develop myself, learn about many things. Please, set me free.”
But I can’t. They’re still needing me by their sides.
And I don’t wanna hurt them.

FYI my parents even dunno about my dreams or what I want.
Not because they never wanna know (sometimes they don’t wanna know, though), but because I never spoke up or tell em what I wanna be.

I understand that my parents just don’t wanna let me fall down. They don’t wanna see me hurt. They just wanna see me happy. I do really understand. But instead of that, my parents also don’t wanna be shamed of me. My failure. because children’s success represents the parents’.

But I never thought so.

If I’m failed, it must be my fault. Because I’m sure that my parents had educated me so well.
I’m the one who work it out, for me. And if I’m failed, I am the one who should be depressed, right? Yeaah, though I never been. Not Yet. I won’t. Nothing can bring me down 😛

Soooo, back to the topic!
I still dunno what to say~!!! Aaaaarrrrghhh…..

This time I just wanna runaway from my house. Gone somewhere nowhere.
Crossing the sea and travelling around the world all alone~!

But that won’t make my parents happy.

Posted May 21, 2010 by Uki Uki Saki in English Posts

Tagged with ,

Ikhlas~? kii~?   Leave a comment

Seorang bapak-bapak yang sudah tua sedang menggosok sepatu seorang pemuda di tepi jalan. Wajahnya menunjukkan niat dan kesungguhan. Sambil bekerja, Pak Tua itu bercerita kepada Si Pemuda.
“Kemarin saya dapat pelanggan satu orang. Orang kaya, pakai dasi bagus, bajunya rapi, kerja di kantor dekat sini. Sepatunya juga, modelnya bagus. Saya kira saya bisa minta imbalan lebih, eh, ternyata orangnya pelit minta ampun.”
Si Pemuda agak heran. “Bapak tahu dari mana kalau orang itu pelit?”
“Orangnya ngga mau bayar jasa saya. Saya sudah baik-baik gosok sepatunya sampai mengkilap, tapi orangnya malah marah-marah. Ngga tahu kenapa. Dia langsung pergi.”
Pak Tua itu melanjutkan, “Ya, saya sih sudah ikhlas. Saya sudah bekerja sebaik mungkin. Sudah gosok sepatunya sampai bagus seperti baru. Walaupun gara-gara itu saya tidak bisa makan seharian dan kelaparan, saya ikhlas. Tapi saya heran, ada juga orang pelit kaya’ begitu.”***

Ikhlas. Merelakan apapun yang Tuhan ambil dari kita. Menerima apapun yang Tuhan beri kepada kita. Karena kita yakin Tuhan punya maksud baik dibaliknya. Iya, ngga’ sih?
Aku pernah membayangkan.. jika aku tidak lulus, ikhlaskah aku? Jika aku kehilangan benda-benda berharga, ikhlaskah aku? Jika aku kehilangan orang-orang berharga, ikhlaskah aku? Jika satu detik kemudian Tuhan memanggilku, ikhlaskah aku? Tapi syukur alhamdulillah, aku masih diberkahi hidup yang indah.

Dari membayangkan hal-hal seperti itu, aku mengambil kesimpulan. Ikhlas itu baik karena menghilangkan penyesalan (dan kesedihan yang berlarut-larut). Dan penyesalan itu tidak baik karena tidak berguna. Sebenarnya ada gunanya, tapi beda topik.

Kalau aku tidak lulus, apa aku akan terus menyesalinya? Kalau PC-ku atau hp-ku hilang, apa aku akan terus menyesalinya? Kalau seseorang yang berharga buatku hilang (?), apa aku akan terus menyesalinya? Kalau aku mati, apa aku akan menyesali kehidupan yang aku sia-siakan? Karena itulah ikhlas itu baik.

Tapi, apakah ikhlas itu bisa dibuktikan (dan yang paling penting, diamalkan) hanya dengan mengucapkannya?
Aku masih sering mendengar orang berkata: “Yang penting saya ikhlas saja.” Dengan nada yang kurang mencerminkan keikhlasan (biasanya disertai kata “tapi” setelahnya). Ada juga yang mengaku ikhlas tapi tetap menjelekkan orang seperti cerita pendek yang aku tulis (di atas, tuh).

Yang seperti itu membuatku bingung. Sebenarnya dia ikhlas atau tidak? Bisa saja orang itu ingin dipandang berhati lapang dengan berkata demikian (kasarnya, biar keliatan suci). Tapi bisa saja orang itu memang ikhlas, hanya saja kurang pandai mennyampaikannya.

Ada merpati diatas perahu.
Isinya hati, siapa yang tahu?

Aku berpikir bahwa ikhlas itu tidak bisa dibuktikan (dan diamalkan) hanya dengan diucapkan di depan orang lain. Karena yang mengetahui dan berhak menilai keikhlasan kita hanyalah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil. Toh akan lebih enak rasanya kalau hanya ybs dan Tuhan yang tahu.

Namun bukan berarti aku melarang orang mengungkapkan keikhlasan mereka.
Menunjukkan keikhlasan pada orang lain itu ada baiknya. Misalnya dalam memberi. Keikhlasan dalam memberi menunjukkan kesungguhan dalam beramal / membantu. Tapi ada rambu-rambunya.

Jangan berkata: “Nih, gue ikhlas ngasih lo duit.” Apalagi di depan banyak orang, dengan agak keras, dagu diangkat, mata tidak fokus pada yang diberi, tanpa senyum (atau senyum ala tokoh antagonis), dan menagih di akhir-akhir. Bersiaplah dinilai sebagai orang pamer, sombong, dan pelit (kayak yang nulis).

Lalu, bagaimana seharusnya?
Banyak cara untuk menunjukkan keikhlasan kita pada orang. Yang barusan itu hanya pantangannya, rambu-rambunya. Sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan.
Karakter manusia kan bermacam-macam. Situasi yang dihadapi juga berbeda-beda. Dan kita semua masih dalam proses berkembang dan belajar. Jadi terserah orang mau bagaimana.

Yang jelas, Tuhan mengetahui isi hati dan pikiran kita.

Posted May 5, 2010 by Uki Uki Saki in Uncategorized

Tagged with ,

Uki Uki Saki   Leave a comment

Aku ini pemalas =_=
Aku malas bangun pagi, malas belajar, malas mandi (kadang-kadang), malas melakukan hal-hal yang sifatnya rutin dan teratur. Hanya makanku yang teratur.

Seperti semua orang, aku punya mimpi :3
Impian. Dan itu rahasia. Aku tidak mau mengumbar impianku sebelum aku berhasil mewujudkannya. Impian itu bukan sesuatu yang murahan. tidak bisa diobral, atau dilelang.

Aku sadar, aku dapat mewujudkan impianku dengan berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu :3
Dengan berbakti pada Tuhan, orang tua, Tanah Air, dan segala kebaikan hati. Intinya, aku harus membuat diriku lebih baik. tidak peduli bertambah satu nanogram atau megaton. Alhamdulillah kalau memang megaton XD.

Kontras, mengingat aku si pemalas yang rajin bermimpi. Tapi aku masih berusaha. Dan ini bukan alasan untuk berkelit dari tuntutan.

Aku sedang berusaha menghormati diriku sendiri, membaikkan diriku sendiri, menguji diriku sendiri, dan menempa diri di jalan Tuhan.

Aku minta maaf jika aku pernah menyakiti hati siapapun juga. Aku membutuhkan pengalaman dan pendalaman untuk dapat memahami orang, mohon maklum.

Aku sedang berusaha untuk maju. Biar secepat siput atau kura-kura, yang penting maju.

Posted April 22, 2010 by Uki Uki Saki in Uncategorized

Tagged with , ,