Archive for the ‘short stories’ Tag

Perova Positiva dan Novum Negativum   Leave a comment

Perova Positiva dan Novum Negativum adalah sepasang kekasih. Mereka selalu berdua. Tak terpisahkan. Hidup bersama. Dimanapun selalu bersama. Tidak ada Perova tanpa Novum, begitu juga sebaliknya. Semua untuk satu, dan satu untuk semua. Keduanya adalah satu, dan satu adalah keduanya. Perova adalah Novum, dan Novum adalah Perova. Jiwa, raga, dan cita-cita. Mimpi, luka, dan realita.

Novum dan Perova. Mereka berbeda. Dan perbedaan adalah satu-satunya kesamaan yang mereka punya.
Suatu hari, mereka duduk berdampingan di bawah langit yang biru dan di atas bumi yang hijau.

N : Curang, namamu selalu disebut lebih dulu—bahkan untuk judulnya!
P : Mungkin memang maunya penulis? Hahaha
N : Tidak, karena kau lebih disukai daripada aku.
P : Tenapa bisa begitu? Kurasa kita berdua sama-sama disukai.
N : Aku ini buruk dan merugikan. Sedangkan kau baik dan menguntungkan. Kau menyenangkan, sedangkan aku hanya akan membuat orang bunuh diri.
P : Ahahaha, tapi kau bisa membuat orang menjadi waspada. Tanpamu, polisi tidak akan berguna.
N : Kau itu berbahaya, kau bisa membuat orang lengah dan terlihat seperti orang gila. Entah apa yang mereka sukai darimu.
P : Hmm.. Mungkin karena aku bisa membantu orang mencapai keberhasilan?
N : Dan aku menghambat orang mencapai keberhasilan, begitu? Terimakasih atas pujiannya.
P : Tidak, bukan begitu maksudku. Kau pun bermanfaat, agar orang tidak ceroboh dalam mengambil keputusan. Dan orang akan menyadari siapa dirinya.
N : Kau membuatku ingin menjadi sepertimu.
P : Ahaha, kau adalah aku.

Novum mendengus kecil. Kemudian ia berbaring di pangkuan Perova. Dipandanginya mata kekasihnya itu. Dan Perova membalas pandangan Novum dengan senyum kecil.

N : Mungkin kebaikanmu yang membuat banyak orang menyukaimu. Aku jadi iri dan cemburu. Aku iri karena aku tidak sepertimu. Dan aku cemburu karena satu-satunya hal yang selalu bersamaku ternyata disukai, dicintai banyak orang.
P : Jangan berkata begitu. Kita berdua tahu, orang yang menyukaiku memang membencimu. Tapi kita juga tahu, pengikut setiamu begitu susah meninggalkanmu. Mereka mencintaimu.
N : Di film-film, kau selalu menjadi tokoh utama dan pemenangnya.
P : Tapi tanpamu, tokoh utama tidak berarti dan tidak ada pemenang karena tidak ada perselisihan antara kita. Dan banyak juga orang yang mengagumi tokoh antagonis.
N : Aku ingin menjadi dirimu.
P : Kau adalah aku, dan aku adalah kau.
N : Kau lebih bermakna, tidak ada gunanya aku ada.
P : Jika kau tidak ada, untuk apa aku ada?
N : Aku menyengsarakan manusia, kau menghidupkan mereka.
P : Kau membuat manusia belajar.
N : Iblis mencintaiku
P : Bukankah itu bagus? Hihihi
N : Kau putih, dan aku hitam
P : Dunia ini memang seperti papan catur.
N : Kau selalu mematahkan kata-kataku.
P : Tanpamu, aku tak sanggup mematahkan apapun.
N : Untuk inikah kita hidup?
P : Benar.
N : Untuk saling melawan dan mematahkan?
P : Benar.

Novum menangis di pangkuan Perova. Perova membelai Novum sembari tersenyum penuh kasih sayang.

P : Kau tidak sendirian, Novum. Kita berdua akan selalu bersama. Kita akan selalu ada, abadi. Bahkan waktu bisa mati, hahaha.
N : Dan saat waktu mati, kita akan terpisah!
P : Dan keterpisahan itulah yang membuat kita sama.
N : Saat itu, aku akan kehilanganmu.
P : Saat itu, aku akan merindukanmu.
N : Mengapa Tuhan menciptakan kita, Perova? Mengapa?

Novum terus menangis di pangkuan Perova. Airmatanya berkilauan, seperti berlian.

Sedangkan Perova hanya bisa tersenyum sambil mengelus kepala Novum. Ia tidak akan menjawab pertanyaan Novum, tidak perlu. Karena ia tahu, Novum mengetahui jawabannya. Dan Perova mengetahui apa yang Novum ketahui.

Karena mereka adalah satu.

Advertisements

Posted June 6, 2010 by Uki Uki Saki in Indonesian Posts

Tagged with ,